FaDilla
“Waduh
Dil, Kak Angga manis banget ya” Nadya terlihat sangat
menyukai kehadiran Kak Angga.
“Apaan
sih?” jawab Dilla tanpa sedikit pun tertarik dengan apa yang
sahabatnya itu katakan.
“Liat
dong,liat manis banget gitu”
“Dia
manis? Sama sekali gak Nadya”
“Ih,
mata kamu burek ya”
“Tetep
Vino yang paling manis bagi aku” dengan suara yang datar
Dilla menyebutkan nama itu.
“1-2-3-4-5….”
Kak Angga mulai menghitung.
Suaranya bagai gempa yang
ingin meretakkan bumi. Angin tornado yang seakan-akan memporak-porandakan
dunia. Sungguh bencana kalau mereka tidak datang tepat waktu di barisan. Mereka
bisa mendapat hukuman push-up atau ide jahil Kak Angga yang akan didapat. Kak
Angga akan meminta mereka melakukan hal-hal aneh, yang akan membuat lelah, letih,
lemas, lesu, dan tentunya memalukan.
Misalnya seperti Dilla, ia
seperti sudah menjadi langganan Pembina jahil itu. Ada saja ulah Dilla yang
bisa membuatnya dihukum, dan hal itu sangat menyenangkan bagi Kak Angga. Mulai
dari terlambat, salah mendengarkan arahan. Bahkan menghafal dasa darma saja
tidak bisa dilakukan oleh Dilla.
“Ayo
Dil, cepetan nanti kita kena seri”
“Duluan
aja deh”
“Duluan?
Ayo Dil, nanti kamu kena seri loh” Nadya sudah sangat panic mendengar suara
Pembina yang terus menghitung.
“Mau
ikutan kena seri juga”
“Gak,
gak”
“Yaudah
sana”
“Ih
kamu Dil, aku duluan deh” Nadya pun lantas meninggalkan Dilla, ia berlari
terburu-buru sekali sampai-sampai ia hampir tersandung.
“Oke,
semua sudah berkumpul di regunya masing-masing?”
“Sudah
siap Kak!”
Tiba-tiba
Dilla datang dan langsung nyelonong ke barisan. Hal yang hampir selalu ia
lakukan setiap kegiatan pramuka itu berlangsung.
“Aduh
Dilla, cari masalah aja kamu. Bagus gak usah ikut sekalian” ucap Nadya pada
dirinya.
“Hey
kamu yang baru datang kemari”
“Iya
Kak ada apa?”
“Kamu
tahu apa kesalahan kamu?”
“Enggak”
jawab Dilla singkat.
“Sebenarnya
kamu niat gak sih ikut pramuka”
“Niat
gak ya?” Dilla bertanya pada dirinya. “Kayaknya gak deh Kak”
“Terus
kenapa kamu selalu hadir”
“Karena
wajib” santai sekali ia menjawabnya.
“Jadi
kalo gak wajib”
“Yaudah
jelaslah Kak, saya gak bakal ikutan”
“Oke,
mulai hari ini khusus untuk kamu pramuka tidak diwajibkan, kamu bisa
meninggalkan kegiatan ini”
“Wah
serius Kak? Beneran?”
“Iya,
sekarang kamu boleh pergi”
“Yees”
Dilla mengangkat tangannya seakan ia baru saja memenangkan perlombaan tingkat
dunia. Dilla langsung pergi ngeloyor
entah kemana.
“Kamu pikir,
kamu bisa keluar segampang itu. Ini kan cuma rencana saya aja, malah kamu akan
lebih terikat lagi” gumam
Angga dalam hati.
Karena Nadya tidak ingin
Dilla keluar dari pramuka dan meninggalkan dirinya, ia berusaha membuat alasan
agar Dilla kembali.
“Kak
intruksi!” dengan tampang yang serius dan mengangkat tangannya tinggi, setinggi
monas ia menyampaikan aspirasinya.
“Iya,
ada apa?”
“Kenapa
gak adil?”
“Yang
lain juga ikut pramuka karena wajib”
“Ehm..
gitu ya” Angga berpikir sambil mengerucutkan bibirnya. “Yaudah, semua yang ikut
pramuka karena wajib silakan keluar”
“Oke,
tapi jangan nyesel ya Kak?”
“He
eh, cepetan atau nanti Kakak berubah pikiran.
“Ayo
temen-temen kita keluar
“Yee…
Bebas…. Bebas” seluruh murid keluar dari barisannya. We are the champion my friend. Entah dapat inisiatif dari mana,
mereka kompak bernyanyi lagu itu.
Hanya
trio kestari saja yang tetap tinggal. Yaitu Fadil, Kiki, dan Leo, mereka sangat
mencintai pramuka. Dari SD mereka sudah mengikuti pramuka.
Tapi
sebelum mereka sempat meninggalkan lapangan. Kepala sekolah datang.
“Ada
apa ini? Kenapa bubar? Memang sudah selesai?”
“Kami
keluar dari pramuka pak”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kata
Kak Angga semua yang ikut pramuka karena diwajibkan silakan keluar”
“Lalu
kalau kalian semua keluar siapa yang
akan membanggakan nama sekolah kita”
“Kita
kan ada pak” ucap trio lestari serempak.
“Sekarang
semua kembali ke barisannya atau…” Pak kemsek sengaja menggantungkan
kalimatnya.
Seluruh
murid serempak memasang wajah dengan ekspresi penuh tanya jawab.
“Atau…”
pak kemsek kembali mengantungkan kalimat yang sudah ditunggu-tunggu oleh para
murid sejak ratusan ribu lagu, sejak zaman manusia purba Meganthropus
Paleojavanicus
“Atau
semua ekskul akan saya tiadakan”
“Innalillahirojiun,
aaaaaa…. Tidaaaak…” tolak para murid histeris. Histeris seperti baru menerima
lembar ujian Fisika dan Matematika.
Akhirnya
Jono, seorang siswa yang berperawakan seperti Jokowi itu maju.
“Ayo
kawan-kawan kita satukan kekuatan, dengan kekuatan bulan bersatu kita teguh
bercerai kita ke pengadilan..” bak film animasi sailormoon dan gaya bicara
seperti tokoh ojan dalam film sketsa, Jono berusaha membangkitkan semangat para
sahabat seperjuangan ujian Fisika dan Matetika agar masuk kembali ke pramuka.
“Ayo
Jon aku ikut, aku akan ikut berjuang bersama kamu” Nadya sebagai orang pertama
yang mendukung semangat Jono.
Hati Jono sangat senang mengetahui
bahwa Nadya, siswi perempuan yang paling ia cintai semenjak ia baru berhenti
mengompol ikut berpartisipasi dalam gerakan entah apa namanya.
“Ayo
dong yang lain ikut juga”
Akhirnya semua murid
membentuk sebuah lingkaran dan menyatukan tangan mereka termasuk juga trio
lestari. Jono kembali membakar semangat teman-temanya dengan kata-kata yang
sangat memotivasi. Itu pasti karena Jono gemar sekali membaca buku nasehat emas
karya Mario Teguh. Nasehat Emas? Golden wise kan itu artinya, Cuma karena Jono
itu cinta bahsasa persatuan, jad pake
bahasa Indonesia. Okelah kita lanjut aja ke TKP…
“Kita
sebagai dara muda daranya para remaja harus membela tanah air tumpah darah satu
demi kedaulatan rakyat
dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia”
Walau sebenernya si Jono sendiri tidak tahu apa maksud kalimatnya itu. Walah
kepie toh Jon.
Keputusan pun diambil, mereka setuju
untuk kembali bergabung dalam pramuka.
“Tapi
ada satu lagi yang belum ada pak”
“Siapa?
Panggil ke sini”
“Dilla
Ardillah pak”
“Cepat
panggil dia”
“Kena kamu
Dilla” sebuah
senyuman tersungging di sudut bibi Angga.
Kemudian
Jono memanggil Dilla. Setelah berkeliling 7 benua, 5 negara , dan 3 kota.
Akhirnya Jono menemukan Dilla sedang makan di kantin.
“Dil,
Dil, ayo buruan”
“Kemana?”
“Kamu
dipanggil bapak kepsek”
“Dimana?”
dengan suara yang tidak begitu jelas, karena ada mie di mulutnya.
“Lapangan”
“Ngapain?
Aku belum selesai makan”
“Udah
aku bantuin sini” Jono mengambil mangkok mie Dilla dan langsung melahap mie itu
sampai habis. Tapi karena terlalu terburu-buru, ia jadi tersedak.
“Mana
minum?”
“Nih,
nih” menyodorkan segelas air putih.
“Ayo
Dil, cepetan”
“Sabar,
buk ini uangnya ya” meninggalkan uang di atas meja.
Jono langsung menarik tangan Dilla
dan berlari menuju lapangan. Di sana Kak Angga sudah menunggu dengan senyum
penuh kepuasan.
“Ini
Dilla pak”
Pak
kepsek manggut-manggut melihat kehadiran Dilla.
“Dilla,
sekarang kamu masuk pramuka lagi ya”
“Gak
mau saya pak”
“Harus,
kalau kamu gak mau masuk pramuka, kamu akan saya keluarkan dari ekskul drama,
mau?”
“Drama? Gak ikutan? Tidaaa..aaak. Oke aku
ikut pramuka, tapi ini demi kelas drama” ucap Dilla dalam hati.
“Oke,
saya masuk pramuka lagi” Dilla hendak kembali ke barisan.
“Eits,
tapi saya gak mau terima dia lagi pak, sebelumnya Dilla terlambat, jadi dia
harus dihukum”
“Saya
gak mau pak, saya mau pulang aja deh”
“Dilla..
mau ikut pramuka atau..”
“Iya
iya pak”
“Yaudah
Kak Angga saya permisi dulu ya” pak kepsek mengundurkan diri dan kembali ke
kantornya.
Kak Angga kembali dengan senyum,
tapi kali ini senyum kelicikan.
“Sekarang
untuk Dilla, siap grak. Serong kanan grak. Ambil posisi 1 paket”
“Banyak
banget sih Kak”
“Dua
paket” Kak Angga mengeraskan suaranya.
“Iya-iya
satu paket aja deh”
Dilla kemudian push-up 30 kali.
“Sudah
Kak”
“Ulangi”
“Hah?
Yang bener aja”
“Aturannya
kan ada”
“Izin
mulai Kak” teriak Dilla
“Mulai”
“Ujung-ujungnya
dua paket juga, benci banget aku sama Pembina yang satu ini”
“Sekarang
kembali ke barisan” ucap Kak Angga dengan suara kepuasan.
Dilla menuju barisannya yang berada
tepat di depan Nadya.
“Tuh
kan Dil, aku bilang apa bukannya kena seri malah paket yang kamu dapat”
“Abisnya
aku malas banget sama Kak Angga. Kenapa Kak Dio sama Kak Dina gak datang coba?
Kakak yang ini nyebelin banget. Karena demi drama aja aku mau ikut”
“Udah
dongengnya”
Dilla menatap wajah Kak Angga dengan
tatapan kebencian.


0 Comments:
Post a Comment