Wednesday, October 12, 2016

Love in Scouting (bag I)

 FaDilla

Dilema Pramuka Dilla


“Waduh Dil, Kak Angga manis banget ya” Nadya terlihat sangat menyukai kehadiran Kak Angga.
“Apaan sih?”  jawab Dilla tanpa sedikit pun tertarik dengan apa yang sahabatnya itu katakan.
“Liat dong,liat manis banget gitu”
“Dia manis? Sama sekali gak Nadya”
“Ih, mata kamu burek ya”
“Tetep Vino yang paling manis bagi aku” dengan suara yang datar Dilla menyebutkan nama itu.

“1-2-3-4-5….” Kak Angga mulai menghitung.

Suaranya bagai gempa yang ingin meretakkan bumi. Angin tornado yang seakan-akan memporak-porandakan dunia. Sungguh bencana kalau mereka tidak datang tepat waktu di barisan. Mereka bisa mendapat hukuman push-up atau ide jahil Kak Angga yang akan didapat. Kak Angga akan meminta mereka melakukan hal-hal aneh, yang akan membuat lelah, letih, lemas, lesu, dan tentunya memalukan.

Misalnya seperti Dilla, ia seperti sudah menjadi langganan Pembina jahil itu. Ada saja ulah Dilla yang bisa membuatnya dihukum, dan hal itu sangat menyenangkan bagi Kak Angga. Mulai dari terlambat, salah mendengarkan arahan. Bahkan menghafal dasa darma saja tidak bisa dilakukan oleh Dilla.

“Ayo Dil, cepetan nanti kita kena seri”
“Duluan aja deh”
“Duluan? Ayo Dil, nanti kamu kena seri loh” Nadya sudah sangat panic mendengar suara Pembina yang terus menghitung.
“Mau ikutan kena seri juga”
“Gak, gak”
“Yaudah sana”
“Ih kamu Dil, aku duluan deh” Nadya pun lantas meninggalkan Dilla, ia berlari terburu-buru sekali sampai-sampai ia hampir tersandung.

“Oke, semua sudah berkumpul di regunya masing-masing?”
“Sudah siap Kak!”
Tiba-tiba Dilla datang dan langsung nyelonong ke barisan. Hal yang hampir selalu ia lakukan setiap kegiatan pramuka itu berlangsung.
“Aduh Dilla, cari masalah aja kamu. Bagus gak usah ikut sekalian” ucap Nadya pada dirinya.
“Hey kamu yang baru datang kemari”
“Iya Kak ada apa?”
“Kamu tahu apa kesalahan kamu?”
“Enggak” jawab Dilla singkat.
“Sebenarnya kamu niat gak sih ikut pramuka”
“Niat gak ya?” Dilla bertanya pada dirinya. “Kayaknya gak deh Kak”
“Terus kenapa kamu selalu hadir”
“Karena wajib” santai sekali ia menjawabnya.
“Jadi kalo gak wajib”
“Yaudah jelaslah Kak, saya gak bakal ikutan”
“Oke, mulai hari ini khusus untuk kamu pramuka tidak diwajibkan, kamu bisa meninggalkan kegiatan ini”
“Wah serius Kak? Beneran?”
“Iya, sekarang kamu boleh pergi”
“Yees” Dilla mengangkat tangannya seakan ia baru saja memenangkan perlombaan tingkat dunia. Dilla langsung pergi ngeloyor entah kemana.
“Kamu pikir, kamu bisa keluar segampang itu. Ini kan cuma rencana saya aja, malah kamu akan lebih terikat lagi” gumam Angga dalam hati.

Karena Nadya tidak ingin Dilla keluar dari pramuka dan meninggalkan dirinya, ia berusaha membuat alasan agar Dilla kembali.
“Kak intruksi!” dengan tampang yang serius dan mengangkat tangannya tinggi, setinggi monas ia menyampaikan aspirasinya.
“Iya, ada apa?”
“Kenapa gak adil?”
“Yang lain juga ikut pramuka karena wajib”
“Ehm.. gitu ya” Angga berpikir sambil mengerucutkan bibirnya. “Yaudah, semua yang ikut pramuka karena wajib silakan keluar”
“Oke, tapi jangan nyesel ya Kak?”
“He eh, cepetan atau nanti Kakak berubah pikiran.
“Ayo temen-temen kita keluar
“Yee… Bebas…. Bebas” seluruh murid keluar dari barisannya. We are the champion my friend. Entah dapat inisiatif dari mana, mereka kompak bernyanyi lagu itu.
Hanya trio kestari saja yang tetap tinggal. Yaitu Fadil, Kiki, dan Leo, mereka sangat mencintai pramuka. Dari SD mereka sudah mengikuti pramuka.

Tapi sebelum mereka sempat meninggalkan lapangan. Kepala sekolah datang.
“Ada apa ini? Kenapa bubar? Memang sudah selesai?”
“Kami keluar dari pramuka pak”
“Kenapa?”
“Kata Kak Angga semua yang ikut pramuka karena diwajibkan silakan keluar”
“Lalu kalau kalian  semua keluar siapa yang akan membanggakan nama sekolah kita”
“Kita kan ada pak” ucap trio lestari serempak.
“Sekarang semua kembali ke barisannya atau…” Pak kemsek sengaja menggantungkan kalimatnya.
Seluruh murid serempak memasang wajah dengan ekspresi penuh tanya jawab.
“Atau…” pak kemsek kembali mengantungkan kalimat yang sudah ditunggu-tunggu oleh para murid sejak ratusan ribu lagu, sejak zaman manusia purba Meganthropus Paleojavanicus

“Atau semua ekskul akan saya tiadakan”
“Innalillahirojiun, aaaaaa…. Tidaaaak…” tolak para murid histeris. Histeris seperti baru menerima lembar ujian Fisika dan Matematika.
Akhirnya Jono, seorang siswa yang berperawakan seperti Jokowi itu maju.
“Ayo kawan-kawan kita satukan kekuatan, dengan kekuatan bulan bersatu kita teguh bercerai kita ke pengadilan..” bak film animasi sailormoon dan gaya bicara seperti tokoh ojan dalam film sketsa, Jono berusaha membangkitkan semangat para sahabat seperjuangan ujian Fisika dan Matetika agar masuk kembali ke pramuka.
“Ayo Jon aku ikut, aku akan ikut berjuang bersama kamu” Nadya sebagai orang pertama yang mendukung semangat Jono.
            Hati Jono sangat senang mengetahui bahwa Nadya, siswi perempuan yang paling ia cintai semenjak ia baru berhenti mengompol ikut berpartisipasi dalam gerakan entah apa namanya.
“Ayo dong yang lain ikut juga”
Akhirnya semua murid membentuk sebuah lingkaran dan menyatukan tangan mereka termasuk juga trio lestari. Jono kembali membakar semangat teman-temanya dengan kata-kata yang sangat memotivasi. Itu pasti karena Jono gemar sekali membaca buku nasehat emas karya Mario Teguh. Nasehat Emas? Golden wise kan itu artinya, Cuma karena Jono itu cinta bahsasa  persatuan, jad pake bahasa Indonesia. Okelah kita lanjut aja ke TKP…
“Kita sebagai dara muda daranya para remaja harus membela tanah air tumpah darah satu demi kedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Walau sebenernya si Jono sendiri tidak tahu apa maksud kalimatnya itu. Walah kepie toh Jon.
            Keputusan pun diambil, mereka setuju untuk kembali bergabung dalam pramuka.
“Tapi ada satu lagi yang belum ada pak”
“Siapa? Panggil ke sini”
“Dilla Ardillah pak”
“Cepat panggil dia”
“Kena kamu Dilla” sebuah senyuman tersungging di sudut bibi Angga.
Kemudian Jono memanggil Dilla. Setelah berkeliling 7 benua, 5 negara , dan 3 kota. Akhirnya Jono menemukan Dilla sedang makan di kantin.
“Dil, Dil, ayo buruan”
“Kemana?”
“Kamu dipanggil bapak kepsek”
“Dimana?” dengan suara yang tidak begitu jelas, karena ada mie di mulutnya.
“Lapangan”
“Ngapain? Aku belum selesai makan”
“Udah aku bantuin sini” Jono mengambil mangkok mie Dilla dan langsung melahap mie itu sampai habis. Tapi karena terlalu terburu-buru, ia jadi tersedak.
“Mana minum?”
“Nih, nih” menyodorkan segelas air putih.
“Ayo Dil, cepetan”
“Sabar, buk ini uangnya ya” meninggalkan uang di atas meja.
            Jono langsung menarik tangan Dilla dan berlari menuju lapangan. Di sana Kak Angga sudah menunggu dengan senyum penuh kepuasan.
“Ini Dilla pak”
Pak kepsek manggut-manggut melihat kehadiran Dilla.
“Dilla, sekarang kamu masuk pramuka lagi ya”
“Gak mau saya pak”
“Harus, kalau kamu gak mau masuk pramuka, kamu akan saya keluarkan dari ekskul drama, mau?”
Drama? Gak ikutan? Tidaaa..aaak. Oke aku ikut pramuka, tapi ini demi kelas drama” ucap Dilla dalam hati.
“Oke, saya masuk pramuka lagi” Dilla hendak kembali ke barisan.
“Eits, tapi saya gak mau terima dia lagi pak, sebelumnya Dilla terlambat, jadi dia harus dihukum”
“Saya gak mau pak, saya mau pulang aja deh”
“Dilla.. mau ikut pramuka atau..”
“Iya iya pak”
“Yaudah Kak Angga saya permisi dulu ya” pak kepsek mengundurkan diri dan kembali ke kantornya.
            Kak Angga kembali dengan senyum, tapi kali ini senyum kelicikan.
“Sekarang untuk Dilla, siap grak. Serong kanan grak. Ambil posisi 1 paket”
“Banyak banget sih Kak”
“Dua paket” Kak Angga mengeraskan suaranya.
“Iya-iya satu paket aja deh”
            Dilla kemudian push-up 30 kali.
“Sudah Kak”
“Ulangi”
“Hah? Yang bener aja”
“Aturannya kan ada”
“Izin mulai Kak” teriak Dilla
“Mulai”
“Ujung-ujungnya dua paket juga, benci banget aku sama Pembina yang satu ini”
“Sekarang kembali ke barisan” ucap Kak Angga dengan suara kepuasan.
            Dilla menuju barisannya yang berada tepat di depan Nadya.
“Tuh kan Dil, aku bilang apa bukannya kena seri malah paket yang kamu dapat”
“Abisnya aku malas banget sama Kak Angga. Kenapa Kak Dio sama Kak Dina gak datang coba? Kakak yang ini nyebelin banget. Karena demi drama aja aku mau ikut”
“Udah dongengnya”

            Dilla menatap wajah Kak Angga dengan tatapan kebencian.

0 Comments:

Post a Comment