Wednesday, November 9, 2016

Hujan-Hujanan di Padang Bulan (FFA 2016)

Assalamua’laikum…
Ketemu lagi, lagi, dan selalu lagi sama tulisan saya di sini.
Piye Kabare? Semoga selalu sehat aja ya..

Sebelumnya kami sudah melakukan tahap produksi film, jadi sekarang waktunya untuk pengumpulannya. Film-film yang dikumpul harus dalam bentuk hardcopy atau kaset dan diberi cover yang menarik sesuai cerita dari film. Dan diantar ke Kantor PKPA yang beralamat di Jl. Abdul Hakim 5A, Pasar 1 Setia Budi, Tanjung Sari.

Sempat berembuk juga, siapa yang mau ngantar. Karena temen-temen banyak yang tidak bisa pergi karena beberapa alasan. Jadi akhirnya saya sama Peny yang antar kaset itu.

Sepulang sekolah, kira-kira jam 2an. Kami pergi naik angkot 67. Ketika udah mau sampai tempat tujuan, kami mulai kebingungan. Karena alamat yang kami cari tidak ketemu-ketemu juga. Di situ banyak alamat yang tertulis di jalanan. Ada Jamin Ginting, Ringroad, Padang Bulan, jalan ini, jalan itu. Saya bingunglah pokoknya. Karena takut nyasar akhirnya, kami turun dari angkot dan nanya sama bapak tukang tambal ban.

Kata bapak itu sih udah gak jauh lagi. Tinggal lurus terus nyebrang terus lurus lagi. Kami pikir ya memang dekat, jadi kami jalan kaki saja. Akhirnya ketemu simpang alamat yang mau kami tuju. Karena tidak mau nyasar lagi, kami nanya sama Ibuk Warung Nasi. Katanya lurus saja. Tapi kalau jalan kaki bakal lama, jadinya kami nunggu angkot yang saya lupa nomornya berapa.

Saat kami nunggu angkot, tiba-tiba hujan turun deras dan angkot belum datang juga. Padahal udah sore. Saya jadi takut, takut kemaleman dan gimana pulangnya nanti karena uang di kantong tinggal sepuluh ribu. Dari Padang Bulan ke Marelankan lumayan jauh juga.

Setelah sekian menit nunggu, akhirnya muncul juga kepala angkot yang kami tunggu. Dan keadaan saat itu masih hujan loh. Setelah kami turu angkot. Lagi-lagi, kami ketemu simpang.

Kata Peny sih udah gak jauh lagi. Okelah, kami jalan lagi ke PKPA di bawah guyuran hujan yang terus berusaha dengan gigihnya membasahi baju kami *aseeek* dan membuat jilbab saya gak bisa lagi tegak.

Dengan baju yang basah kami masuk ke kantor. Dan ditanyain kenapa basah, karena kehujananlah. Setelah mengisi absen dan tandatangan, kami keluar. Sebelum pulang kami sempatkan dulu foto di depan PKPA, biar jadi kenang-kenangan perjuangan kami hari ini yang begitu luar biasa, karena memang hari ini di luar kebiasaan kami.

Selesai sudah cerita saya tentang hujan di padang bulan. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil di sana. Tentang berjuang dalam pencapaian sebuah tujuan. Mulai dari nyasar, yang berarti saya harus lebih memperbanyak wawasan saya soal jalanan di sekitaran Medan agar tidak banyak ongkos yang terpakai sia-sia. Kan sayang uang jajan saya habis cuma buat nyasar doing.

Tentang sedia payung sebelum hujan, karena kalau udah kena hujan dan gak pakai mantel bisa kebasahan kayak tadi. Tapi sebenernya asik juga sih main hujan-hujan gitu. Dulu waktu saya kecil pasti kena marah kalau hujan. Mungkin biar pernah kali ya. :D

Tentang menghargai sebuah karya dan kerja keras. Karena saat sebuah karya tercipta. Para penonton tidak akan bertanya bagaimana proses karya itu dibuat.

0 Comments:

Post a Comment